Lompat ke isi utama

Berita

Menakar Rasionalitas Sikap "Golput" Gen Z Dalam Pesta Demokrasi, Begini Perspektif Nelliyana

Menakar Rasionalitas Sikap "Golput" Gen Z Dalam Pesta Demokrasi,  Begini Perspektif Nelliyana

Sigli - Nelliyana, S.E., M. Ag Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Kabupaten Pidie mengutarakan pandangannya terhadap fenomena "Golput" dikalangan gen Z. Selasa, 22 September 2026.

Fenomena politik hari ini sering kali diwarnai oleh sikap sebagian kelompok "khususnya Generasi Z" yang memilih untuk menjadi golongan putih (tidak memilih) atau bersikap apatis terhadap pemilu. Pertanyaannya, seberapa rasionalkah sikap tidak memilih tersebut? Nelli menjabarkan sebagai berikut:

1. Ilusi Bahwa "Tidak Memilih" Adalah Bentuk Protes
Bagi sebagian Gen Z, golput dianggap sebagai bentuk kekecewaan atau protes terhadap sistem politik yang ada. Namun, secara praktis, pemilu akan tetap berjalan dan menghasilkan pemimpin terpilih terlepas dari adanya suara anda atau tidak.

Konsekuensinya, mereka yang golput kehilangan legitimasi moral untuk mengkritik kebijakan pemerintah kedepan, karena mereka telah melepaskan hak dasarnya untuk turut menentukan arah kepemimpinan.

2. Kerugian Konkret dan Jangka Panjang
Sikap acuh tak acuh terhadap bilik suara bukan sekadar soal angka partisipasi, melainkan menyangkut nasib masa depan. Kebijakan publik, alokasi anggaran pendidikan, lapangan pekerjaan, hingga isu lingkungan yang dirumuskan oleh para pejabat terpilih hari ini akan langsung berdampak pada kehidupan Gen Z.

Ketika Gen Z memilih diam, mereka menyerahkan masa depan bangsa dan arah pembangunan kepada kelompok masyarakat lain yang belum tentu memiliki visi yang selaras dengan kebutuhan zaman mereka.

3. Pembangunan untuk Siapa?
Penting disadari bahwa penerima manfaat utama dari pembangunan nasional hari ini dan di masa depan adalah generasi muda (Gen Z itu sendiri). Oleh karena itu, sudah sepatutnya Gen Z merespons dinamika pemilu dengan tingkat kepekaan dan rasionalitas yang tinggi. Suara di bilik suara bukan sekadar mencoblos gambar partai atau kandidat, melainkan investasi atas kualitas hidup mereka sendiri di masa mendatang.

Menurut Nelli yang penting untuk diingat bahwa demokrasi yang sehat membutuhkan keterlibatan kritis, bukan pengasingan diri. Menjadi pemilih yang rasional berarti mempelajari rekam jejak, visi-misi kandidat, dan berani hadir di TPS untuk bersuara.